Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Bumbu Dasar Praktis Dan Sehat

بسم الله الرحمان الرحيم

Kamis, 14 Syawal 1436 H / 30 Juli 2015 M

🌷🌷🌷🌷🍃🌷🌷🌷🌷

👍🍝 BUMBU DASAR PRAKTIS & SEHAT🍝👍
---------------------●◎●-----------------------

   📌Meski Ramadan telah lewat, namun tips praktis sehat berikut ini dapat bermanfaat terutama untuk ibu-ibu yang super sibuk, yaitu dengan menyiapkan bumbu dasar yang awet hingga 3 bulan...

👉Nah berikut ini resep praktis dan sehatnya :

📝 Bumbu dasar merah

- 400 gr cabai merah (buang biji),

- 100 gr bwng merah,

 - 50 gr bawang putih,

-100 gr tomat,

- 20 gr terasi,

- 100 gr gula pasir,

- 15 gram garam,

- 100 ml minyak goreng (saat memblender), dan -100 ml minyak goreng (saat menumis).

🔼 Bumbu ini cocok untuk memasak nasi goreng, sambal goreng (di tambah lengkuas, salam, dan santan), dll

📝 Bumbu dasar kuning

- 100 gram kemiri,

- 150 gr bw putih,

- 500 gr bw merah,

- 25 gram kunyit,

- 20 gram jahe,

- 20 gram lengkuas,

- 1 sdm lada bubuk,

- 2,5 sd teh garam,

- 2 sd teh gula pasir,

- 150 ml minyak goreng untuk memblender,

- 50 ml minyak untuk menumis.

🔼 Bumbu dasar kuning itu misalnya untuk macam-macam soto, pesmol, acar, terik daging, sampai bumbu ayam goreng dan mie goreng.

📝Bumbu dasar orange

- 300 gr cabai merah buang bijinya,

- 1 sendok teh jinten,

- 1 sendok teh adas manis bubuk, (saya skip)

- 2,5 sdm ketumbar bubuk,

- 100 gr kemiri,

- 150 gr bw putih,

- 500 gr bw merah,

- 25 gram kunyit,

- 20 gram jahe,

- 20 gram lengkuas,

- 2 sdt lada bubuk,

- 3,5 gram garam,

- 2 sendok teh gula,

-150 ml minyak goreng untuk memblender, dan

- 50 ml minyak untuk menumis.

🔼 Bumbu orange untuk kari, gulai, rendang, dan macam-macam masakan yang berwarna orange.

📝 bumbu dasar putih

- 250 gr bw merah,

- 100 gr bw putih,

- 50 gram kemiri,

- 3 cm lengkuas di rajang halus,

- 2 sedok teh garam,

- 2 sd teh gula pasir,

- 100ml minyak goreng (untuk memblender),

- 100 ml minyak goreng untuk menumis.

🔼 Bumbu ini cocok untuk makanan berwarna, misalnya rawon, semur, bisa juga untuk tumisan mi goreng, dan oseng-oseng.

📓Cara membuat Bumbu Dasar :

1. haluskan semua bahan, kecuali gula dan minyak untuk menumis, hingga halus benar.

2. Panaskan minyak untuk menumis, serta tumis bumbu sampai harum dan matang. Masukan gula, tumis sebentar, angkat dan dinginkan.

3. Masukkan ke dalam toples, siap digunakan.

4. Bumbu dasar bisa di simpan dalam kulkas selama tiga bulan.
👉Jika ingin memasak, ambillah sedikit dan masukan bumbu tambahan lain, seperti rempah2 daun. daun salam. daun jeruk. sereh. daun kunyit. dll.

📚〰〰〰〰〰〰〰✏
 🌎 Grup idi komisariat dkk balikpapan.
Info dari dr. Emi Um Khonsa


🍯Majmu'ah BIKUM🍯

Berkhidmat Pada Suami

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
             BERKHIDMAT PADA SUAMI
•••••••••••••••••••••••••• 🏡 ••••••••••••••••••••••••••

✒ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

💼Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga.

❓Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini?

                           🌻🌻🌻

💎Salah satu sifat istri shalihah yang menandakan bagusnya interaksi kepada suaminya adalah berkhidmat kepada sang suami dan membantu pekerjaannya sebatas yang ia mampu. Ia tidak akan membiarkan sang suami melayani dirinya sendiri sementara ia duduk berpangku tangan menyaksikan apa yang dilakukan suaminya. Ia merasa enggan bila suaminya sampai tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, memasak, mencuci, merapikan tempat tidur, dan semisalnya, sementara ia masih mampu untuk menanganinya. Sehingga tidak mengherankan bila kita mendapati seorang istri shalihah menyibukkan harinya dengan memberikan pelayanan kepada suaminya, mulai dari menyiapkan tempat tidurnya, makan dan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan suami lainnya. Semua dilakukan dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati disertai niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh ini merupakan bentuk perbuatan ihsannya kepada suami, yang diharapkan darinya ia akan beroleh kebaikan.

🍳Berkhidmat kepada suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari kalangan shahabiyyah, seperti yang dilakukan Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu ‘anhu, suaminya. Ia mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh1.” (HR. Bukhari no. 5224 dan Muslim no. 2182)

                           🌻🌻🌻

✅Demikian pula khidmatnya Fathimah bintu Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sampai-sampai kedua tangannya lecet karena menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk meminta seorang pembantu, sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang lebih baik:

❓“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu?

🚪Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari no. 6318 dan Muslim no. 2727)

🍂Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, menikahi seorang janda untuk berkhidmat padanya dengan mengurusi saudara-saudara perempuannya yang masih kecil. Jabir berkisah: “Ayahku meninggal dan ia meninggalkan 7 atau 9 anak perempuan. Maka aku pun menikahi seorang janda.

                           🌻🌻🌻

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku:

❓“Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”

🌷“Sudah,” jawabku.

❓“Dengan gadis atau janda?” tanya beliau.

🌷“Dengan janda,” jawabku.

❓“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersamanya dan ia bisa tertawa bersamamu?” tanya beliau.

🌷“Ayahku, Abdullah, meninggal dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yang sama dengan mereka. Maka aku pun menikahi seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat mereka,” jawabku.

Beliau berkata: “Semoga Allah memberkahimu”, atau beliau berkata: “Semoga kebaikan bagimu.” (HR. Al-Bukhari no. 5367 dan Muslim no. 1466)

                           🌻🌻🌻

💺Hushain bin Mihshan berkata: “Bibiku berkisah padaku, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena suatu kebutuhan, beliaupun bertanya:

❓“Wahai wanita, apakah engkau telah bersuami?”

🍒“Iya,” jawabku.

❓“Bagaimana engkau terhadap suamimu?” tanya beliau.

🍒“Aku tidak mengurang-ngurangi dalam mentaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali apa yang aku tidak mampu menunaikannya,” jawabku.

🔎“Lihatlah di mana keberadaanmu terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu,” sabda beliau. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hal. 179)

                           🌻🌻🌻

❌Namun di sisi lain, suami yang baik tentunya tidak membebani istrinya dengan pekerjaan yang tidak mampu dipikulnya. Bahkan ia melihat dan memperhatikan keberadaan istrinya kapan sekiranya ia butuh bantuan.

🏡🌸Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam gambaran suami yang terbaik. Di tengah kesibukan mengurusi umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menyempatkan membantu keluarganya dan mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan untuk dirinya sendiri tanpa membebankan kepada istrinya, sebagaimana diberitakan istri beliau, Aisyah radhiallahu ‘anha ketika Al-Aswad bin Yazid bertanya kepadanya:

❓“Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah?”

👍Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363)

                           🌻🌻🌻

🌹Dalam riwayat lain, Aisyah radhiallahu ‘anha menyebutkan pekerjaan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan di rumahnya:

👉“Beliau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 540, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 419 dan Al-Misykat no. 5822)

🚲“Beliau manusia biasa. Beliau menambal pakaiannya dan memeras susu kambingnya”. (HR. Al- Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 541, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 420 dan Ash-Shahihah 671)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

🌐http://asysyariah.com/berkhidmat-pada-suami/

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
 Turut memublikasikan:
                🌻رياض طالبات العلم📚
💻http://catatansalafiyat.blogspot.com 🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃